Minggu, 27 Oktober 2013

Tahap – Tahap Adopsi dan Media Efektif yang Digunakan


Dalam proses adopsi atau penerimaan, kita dapat melihat adanya lima tahap, yaitu :

1.  Tahap Sadar (Awareness Stage)
Pada tahap ini sasaran sudah maklum atau menghayati sesuatu hal yang baru. Hal ini diketahuinya karena hasil berkomunikasi dengan penyuluh. 
Media efektif yang digunakan dalam tahap ini adalah ceramah. Ceramah merupakan suatu pertemuan untuk menyampaikan  informasi   yang  lengkap  dengan penjelasan  yang lebih  mendalam  dalam waktu yang relatif cepat.

2.  Tahap Minat (Interest Stage)
              Pada tahap ini  sasaran mulai ingin mengetahui lebih banyak perihal yang baru tersebut.  Ia menginginkan keterangan-keterangan yang lebih terinci lagi.
                  Media efektif yang digunakan dalam tahap ini adalah widyawisata yang merupakan  suatu perjalanan bersama yang dilakukan oleh kelompok tani untuk belajar  dengan melihat suatu penerapan  teknologi  dalam keadaan  yang sesungguhnya, atau  melihat  suatu akibat tidak diterapkannya  teknologi di suatu  tempat.

 3. Tahap Penilaian (Evaluation Stage)
              Pada tahap ini sasaran mulai berpikir-pikir dan menilai keterangan-keterangan perihal yang baru itu.  Ia menghubungkan hal baru itu dengan keadaan sendiri (kesanggupan, resiko, modal, dll.). 
   Media yang paling efektif untuk diterapkan dalam tahap ini adalah anjangsana. Anjangsana  merupakan  kunjungan yang terencana  yang dilakukan  oleh penyuluh ke rumah /tempat  usaha petani  tujuan  menumbuhkan kepercayaaan  diri petani dan keluarganya.

4. Tahap Percobaan ( Trial Stage)
Pada tahap ini sasaran sudah mulai mencoba-coba hal baru tersebut. Sering juga terjadi bahwa usaha mencoba ini tidak dilakukan sendiri, tetapi sasaran mengikuti sepak terjang tetangga atau instansi yang mencoba hal baru itu.
          Media yang paling efektif untuk diterapkan dalam tahap ini adalah demonstrasi. Demonstrasi merupakan suatu metode penyuluhan di lapangan untuk memperlihatkan /membuktikan secara nyata  tentang cara dan atau hasil penerapan teknologi pertanian yang telah terbukti menguntungkan  bagi petani. Media efektif yang lainnya ialah magang yang merupakan proses  belajar mengajar  antar petani, dimana seorang petani belajar dari pengalaman kerjanya pada suatu usatani dalam keadaan sesungguhnya di lapangan dengan bimbingan petani yang berhasil menjalankan usahanya

5. Tahap Menerapkan (Adoption)
              Pada tahap ini sasaran sudah yakin akan kebenaran atau keunggulan hal baru itu, maka ia mengetrapkan anjuran secara luas dan kontinu.  Ia juga akan mengajurkannya kepada tetangga atau teman-temannya.
   Media yang paling efektif untuk digunakan dalam tahap ini adalah kursus tani. Tujuan dari kursus tani ialah meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kecakapan petani dalam menerapkan teknologi  yang lebih menguntungkan serta memecahkan masalah yang dijumpai dalam usahataninya.

JENIS – JENIS PANGAN LOKAL

Pangan lokal adalah  makanan yang diolah secara tradisional yang terus dijaga dan diwariskan sehingga mengkonsumsinya pun dijamin sehat karena tidak menggunakan bahan – bahan kimia yang berbahaya. Pangan lokal sendiri memiliki kandungan gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh.
Jenis - jenis pangan lokal dan kandungan gizi yang terkandung didalamnya dikelempokkan menjadi :
1.    Jagung (Zea mays L.)
      Jagung merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting. Jagung adalah komoditas pangan yang bisa dijadikan makanan pokok sehari-hari sebagai pengganti beras. Kandungan karbohidratnya dapat mencapai 80 persen dari seluruh bahan  kering biji.

2.    Sukun
          Sukun adalah nama sejenis pohon dan buahnya hanya sekali. Buah Sukun, tidak berbiji dan memiliki bagian yang empuk, mirip dengan roti setelah dimasak atau digoreng. Buah Sukun merupakan salah satu bahan pangan penting sebagai sumber karbohidrat. Sukun dapat dimasak utuh, atau dipotong-potong terlebih dahulu, direbus, digoreng, disangrai atau dibakar.

3.    Kacang tanah (Arachis hypogaea)
       Kacang tanah mengandung protein tinggi, zat besi, lemak, Vitamin B kompleks, Fosfor, Vitamin A, Vitamin E yang dapat membantu kesehatan membran sel dan kulit serta melindungi tubuh kita dari serangan radikal bebas, Vitamin K, Lesitin, kolin, dan tinggi akan kalsium. Salah  satu kandungan gizi kacang tanah yang lebih tinggi dari daging, soya dan telur adalah protein. Omega 3 yang merupakan lemak tak jenuh serta Omega 9 juga terdapat di dalam kacang tanah.

5.  Kacang Merah
Kandungan gizi kacang merah adalah sumber karbohidrat kompleks, serat makanan, vitamin B terutama asam folat dan B6, protein, besi, mangan, fosfor dan thiamin. Kandungan asam glutamat, leucine, arginine, serini dan berbagai protein lainnya sangat lengkap di dalam kacang merah ini.

7.  Kacang Hijau
Kacang hijau adalah sumber  protein, karbohidrat komplek dan vitamin B. Kacang hijau juga dapat menurunkan kolesterol karena kaya serat. 

8.  Pisang
Pisang merupakan salah satu pangan lokal yang mempunyai kandungan gizi sangat baik, antara lain menyediakan energi cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lain. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium. Pisang juga mengandung vitamin, yaitu C, B kompleks, B6, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak. 

9. Singkong
Singkong yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu.. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.

Sistem Agribisnis



            Agribisnis adalah suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang ada hubungannya dengan kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan ditunjang oleh kegiatan pertanian. (Arsyad,dkk. 1985). Sedangkan menurut Downey dan Ericson (1992), agribisnis merupakan keseluruhan kegiatan yang berhubungan dengan pertanian mulai dari pengadaan dan penyaluran saran produksi, kegiatan produksi pertanian dan produk olahannya, penyimpanan, pengolahan dan distribusi hasil pertanian dan produk olahannya.
            Pengertian diatas menggambarkan bahwa agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri dari lima subsistem. Subsistem – subsistem tersebut adalah : (a) subsistem agribisnis hulu, (b) subsistem agribisnis usahatani, (c) subsistem agribisnis hilir, dan (d) subsistem jasa layanan pendukung agribisnis (penunjang). 


 
Subsistem agribisnis hulu dikenal dengan subsistem pengadaan sarana produksi pertanian. Subsistem usahatani sendiri melakukan usahatani atau budidaya pertanian.
Subsistem agribisnis hilir terdiri atas dua macam kegiatan, yaitu pengolahan dan pemasaran.  Kegiatan subsistem pengolahan atau produksi ini menghasilkan berbagai macambahan mentah menjadi barang yang akan dipakai konsumen. Kegiatan subsistem pemasaran berlangsung mulai dari pengumpulan komoditas sampai pengeceran kepada konsumen.
Subsistem jasa layanan pendukung atau kelembagaan penunjang agribisnis adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi mendukung dan melayani serta mengembangkan kegiatan keempat subsistem agribisnis yang lain. Lembaga- lembaga yang terlibat dalam kegiatan ini adalah penyuluhan, konsultan, keuangan, dan penelitian.
Sebagai suatu sistem, dapat terlihat dengan jelas bahwa subsistem-subsistem agribisnis tersebut saling berkaitan. Subsistem agribisnis hulu membutuhkan umpan balik dari subsistem usahatani agar dapat memproduksi sarana produksi yang sesuai dengan kebutuhan budidaya pertanian. Sebaliknya, keberhasilan pelaksanaan operasi subsistem usahatani bergantung pada sarana produksi yang dihasilkan oleh subsistem agribisnis hilir. Selanjutnya, proses produksi agribisnis hilir bergantung pada pasokan komoditas primer yang dihasilkan oleh subsistem usahatani. Subsistem jasa layanan pendukung, seperti telah dikemukakan, keberadaannya tergantung pada keberhasilan ketiga subsistem lainnya. Jika subsistem usahatani atau agribisnis hilir mengalami kegagalan, sementara sebagian modalnya merupakan pinjaman maka lembaga keuangan dan asuransi juga akan mengalami kerugian.